Jumat, 6 November 2026

Goa Selarong Bantul Bukan Goa Biasa! Ada Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro di Dalamnya, Cek Harga Tiketnya

Photo Author
- Jumat, 6 November 2026 | 19:40 WIB
Kawasan Goa Selarong di Kapanewon Pajangan, Bantul, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro (Ig/@andriobay).
Kawasan Goa Selarong di Kapanewon Pajangan, Bantul, menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro (Ig/@andriobay).

Yogyakartatourism.com – Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki destinasi wisata yang menawarkan perpaduan sejarah dan keindahan alam.

Salah satunya adalah Goa Selarong, tempat yang memiliki kaitan erat dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda.

Berada di kawasan perbukitan kapur, Goa Selarong bukan sekadar tempat untuk menikmati suasana alam.

Baca Juga: Mau Liburan ke Jogja? Jangan Lewatkan 4 Destinasi Wisata Bantul yang Punya Daya Tarik Berbeda

Kawasan ini menjadi salah satu lokasi penting dalam perjalanan perjuangan Pangeran Diponegoro selama Perang Jawa pada 1825–1830.

Menariknya, destinasi ini memiliki dua goa utama dengan cerita berbeda, yakni Goa Kakung dan Goa Putri.

Keduanya dipercaya berkaitan dengan tempat peristirahatan Pangeran Diponegoro dan istrinya, Raden Ayu Ratnaningsih.

Lokasinya berada di Padukuhan Kembangputihan, Kalurahan Guwosari, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul.

Baca Juga: Cuma Punya Waktu 3 Hari di Jogja? Coba Itinerary Ini, Dijamin Liburan Lebih Maksimal!

Wisatawan yang ingin berkunjung bisa menikmati wisata sejarah sekaligus melihat panorama perbukitan dan kawasan hijau di sekitarnya.

1. Menyimpan Jejak Perjuangan Pangeran Diponegoro

Daya tarik utama Goa Selarong terletak pada nilai sejarahnya. Tempat ini pernah digunakan Pangeran Diponegoro bersama para pengikutnya sebagai salah satu markas perjuangan ketika menghadapi pasukan Belanda.

Peristiwa tersebut berlangsung pada masa Perang Jawa yang terjadi antara 1825 hingga 1830.

Baca Juga: Dari Tari hingga Wayang, Ini 3 Warisan Seni Jogja yang Masih Bertahan Sejak Zaman Keraton

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Halaman:

Editor: Tekad Tri Yanto

Tags

X